Archive

Archive for April, 2011

“Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin”, | Bukan sekedar ungkapan sinis

5 April 2011 1 komentar

Tampaknya dalil yang menyatakan “Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” benar adanya di negeri ini, apabila kita melihat perilaku golongan ekonomi atas yang “tidak sadar” dalam membelanjakan uangnya. Orang-orang yang berduit lebih senang menghabiskan uangnya entah untuk kepentingan perut, untuk membalut tubuh mereka agar kelihatan manis, dan urusan senang-senang, dilakukan di tempat-tempat yang menjadi lahan usaha orang kaya lainnya.

Coba lihat, orang-orang yang suka berbelanja di mall akan cenderung untuk memilih tempat makan di foodcourt mall tersebut, bukan di warung makan di sekitar mall. Walaupun seringkali rasa makanan yang dijual di sebuah foodcourt ngak karuan, masih kalah “yummy” dengan makanan yang dijual di warung makan. Bandingkan saja, sepiring nasi goreng di pinggir jalan bisa jauh lebih gurih dan mantap rasanya dari pada nasi goreng yang kadang ngak sampai sepiring penuh banyaknya, yang dijual di mall-mall. Tapi herannya, mereka rela membayar makanan itu dengan harga selangit. Baca selanjutnya…

“My name is Khan, and I’m not a terrorist” | Sebuah Pelajaran (Bagian 3-selesai)

3 April 2011 1 komentar

My name is Khan

Film ini juga mempersoalkan hubungan dengan pemeluk agama lain. Mandira yang diperistri oleh Rizvan merupakan wanita mandiri yang beragama Hindu. Kehidupan berkeluarga pasangan suami istri tersebut berjalan harmonis layaknya pasangan lainnya yang berpegang pada prinsip hidup yang sama. Masing-masing mampu memisahkan urusan rumah tangga di mana keduanya harus saling terlibat dan urusan hubungan mereka dengan Tuhan mereka di mana mereka harus saling menghormati. Sampai pada suatu ketika, hubungan suami istri ini retak akibat kematian Sameer, anak mereka yang dibunuh oleh teman-teman sekolahnya karena isu “prejudice” terhadap Islam.
Baca selanjutnya…

“My name is Khan, and I’m not a terrorist” | Sebuah Pelajaran (Bagian 2)

2 April 2011 2 komentar

My name is Khan

Lewat media itu, Ibu Rizu bertanya kepadanya apa yang membedakan keduanya. Rizu pun menjawab keduanya tampak sama, namun orang yang memberi manisan adalah orang baik. Sementara itu, orang yang memegang tongkat adalah orang jahat. Sungguh upaya yang jenius! Konsep yang dirasa sederhana itu ternyata efektif menanamkan pandangan Rizu tentang manusia- seorang manusia dikatakan baik, tidak dilihat dari agama apa yang dianutnya, tetapi bagaimana sikapnya terhadap orang lain. Melalui adegan ini, film My Name is Khan ingin memberitahu penonton bahwa toleransi terhadap pemeluk agama lain sudah mentradisi semenjak anak-anak kecil Muslim mulai belajar Agama Islam. Baca selanjutnya…

“My name is Khan, and I’m not a terrorist” | Sebuah Pelajaran (Bagian 1)

2 April 2011 1 komentar

My name is Khan

“My name is Khan, and I’m not a terrorist” bukan merupakan suatu pembelaan seorang India bermarga Khan dalam sidang tindak pidana terorisme, namun sebuah postulat yang diucapkan oleh Rizvan Khan, yang diperankan oleh aktor ternama India, Shah Rukh Khan dalam film terbarunya yang berjudul “My Name is Khan”.

Dari judulnya saja, sudah terlihat bahwa film ini mengangkat isu serius ke dalam ceritanya, yakni terorisme. Namun yang membedakan dengan film-film yang telah beredar, isu terorisme yang diangkat , dikupas dari sudut pandang stigmatisasi Dunia Barat, yang diwakili oleh masyarakat Amerika yang menganggap Islam identik dengan terorisme. Hal ini coba dipatahkan dengan tegas oleh film tersebut melalui adegan-adegan yang dibangun secara kronologis. Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: