Beranda > Catatan Ringan > Mereka Punya Cara Sendiri Untuk Bertahan Hidup

Mereka Punya Cara Sendiri Untuk Bertahan Hidup


Denyut nadi lain dari Jakarta sebenarnya sudah mulai terasa sebelum kita memasuki kota terbesar di Indonesia itu. Apabila anda naik kereta api kelas ekonomi atau bisnis seperti yang saya lakukan dari Madiun ke Jakarta beberapa waktu lalu, maka anda akan bisa melihat langsung dampak negatif dari  sentralisasi ekonomi, yakni sempitnya lowongan kerja. Pada Kenyataanya, banyak orang tanpa pekerjaan formal yang berada di wilayah di luar Jakarta sepanjang lintasan kereta api terpaksa mengais rejeki dengan menjajakan kopi panas, rokok, pop mie, nasi remaasss eeh rames dan oleh – oleh khas dari daerah setempat selama 24 jam.

“Kopi panaaas, nasi rames masih hangat, gethuk…. gethuk, pop mie…. pop mie……..” merupakan beberapa kata yang diucapkan oleh penjual untuk menarik perhatian calon pembeli. Terkadang mereka berteriak-teriak dalam menjajakan barang jualannya. Bayangkan bila beberapa penjual berteriak bersamaan di dalam gerbong kereta, maka akan terdengar suara gaduh bersahut-sahutan yang memekakkan telinga. Itulah yang saya alami, apalagi saat itu saya sedang tertidur pulas. Rasanya saya ingin marah-marah kepada mereka. Ada juga pedagang mainan dan alat-alat yang bagi kita dirasa kurang penting tiba-tiba menaruh barang-barang itu di atas paha kita sewaktu duduk di gerbong dengan harapan kita mau melihat dan lalu tertarik untuk membelinya. Mengganggu sih! Tapi mau bagaimana lagi?

Saya melihat hal itu merupakan cara mereka berjuang untuk bertahan hidup. Mereka tidak punya akses pada pekerjaan yang lebih layak dari segi waktu kerja dan gaji yang diperoleh akibat dari keterbatasan lowongan pekerjaan yang ada. Mau tidak mau mereka harus berjualan di dalam gerbong kereta, wira-wiri naik turun gerbong selama 24 jam dengan menjinjing barang dagangannya yang tertata berdesakan antara satu dengan lainnya, namun tanpa jaminan mendapatkan uang yang cukup. Saya membayangkan betapa lelahnya pekerjaan yang menyita waktu seharian itu, baik secara fisik maupun emosi. Namun, jika mereka terlalu santai pasti uang tak bisa didapatkan.

Meski, para penjual itu bekerja keras, akan tetapi lemah dalam strategi memenangkan persaingan. Harusnya mereka berpikir untuk mendeferensiasi barang dagangan mereka atau menempuh strategi komplementer dalam menjual barang, misalnya pedagang kue berjualan beriringan dengan penjual minuman. Bisa jadi, penumpang perlu minum agar pencernaannya lancar setelah makan kue…

Sebenarnya kondisi ini bisa menjadi ladang “program corporate social responsibility (CSR)” yang bersifat partnership oleh perusahaan yang produk-produknya dijual para pedagang tersebut. Program pembinaan pemasaran, simpan pinjam uang untuk modal dagang, dan penyediaan alat-alat untuk berdagang, misalnya etalase mungil yang unik untuk menarik perhatian pembeli. Semoga ada perusahaan yang melirik peluang ini, sehingga perusahaan dan penjual tersebut sama-sama diuntungkan.

Tulisan Terbaru :

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: